Pagi ini aku baru saja selesai mengajar kelas 9C dengan materi bioteknologi. Bioteknologi bukanlah hal yang mudah untuk diajarkan. Cakupan ilmu yang begitu luas membuatku berkerut sejenak sebelum memutuskan metode apa yang terbaik untuk menggugah siswa belajar materi ini.
Beberapa minggu yang lalu sebelum kami masuk ke materi ini, aku memberi mereka proyek membuat produk bioteknologi sederhana. Aku mengajarkan konsep fermentasi dan produk-produk yang bisa dihasilkan dari proses ini. Paling-paling mereka hanya mampu membuat tape, pikirku waktu itu. Dan waktu pun berjalan…
Pagi ini aku mendapat kejutan manis dari murid-muridku. Ada yang membuat roti berhuruf GPS (Global Prestasi School), ada yang membuat Yogurt dari bakteri dan plain dan ada yang membuat donat kentang. Presentasi produk mereka pun luar biasa. Ada yang menunjukkan gambar-gambar ketika mereka mulai mengerjakan sampai selesai, ada yang mempresentasikan gambar-gambar alat dan bahan dengan detail, bahkan ada yang membuat video yang merekam kegiatan mereka membuat produk. Gairah ingin tahu dan belajar terasa menaungi ruangan kami pagi ini. Aku pun merasakan gairah yang luar biasa untuk terus mengajar…
Sambil memperhatikan mereka aku memberikan nilai di atas kertas. Tapi di hatiku yang paling dalam aku memberikan nilai 100 bagi semua anak-anakku ini. Nilai sempurna bagi usaha mereka. Aku terharu dan belajar akan semangat dan gairah mereka. Aku belajar banyak dari kelasku pagi ini.
Minggu lalu, kakakku mulai sakit. Sebagai orang yang paling dekat rumahnya, aku dimintai tolong ,mengurus dan menyuapi anak-anaknya Angel dan Jo. Hari Minggu, aku ke rumahnya dan menyuapi mereka. Hari Senin aku berangkat kerja seperti biasa. Jam 4 sore, HP ku berbunyi. K Hotma.
“Kenapa Kak?”
“Pulang jam berapa? Bisa minta tolong jagain anak-anak lagi? Suapin juga kaya kemarin”
“Makannya apa?” Sebenarnya aku agak kecapaian setelah bekerja keras seharian, tapi kasihan juga.
“Nah itu juga tolong belikan ya! Apa sajalah, terserah. Untukku juga tolong belikan bubur ayam” Suara kakakku terdengar lemah. Aku jadi tambah kasihan.
Setelah membereskan pekerjaanku, segera aku bergegas menuju mobilku. Sambil menyetir pulang, aku berpikir. Kasihan sekali kakak dan keponakan-keponakanku harus makan makanan yang aku tidak yakin kebersihan dan kesehatannya. Kakakku sakit, Angel dan Jo masih kecil. Aduh kubayangkan wajah mereka, aku tidak rela.
Aku harus memasak untuk mereka! Tapi hati kecilku yang lain berteriak-teriak melarangku melakukan itu. Memasak! Tidak mudah! Sudah berapa lama, kau tidak memasak? Tuduhnya kejam. Tubuhmu pun sudah terlalu lelah! Nanti Kau sakit. Hati kecilku terus membujukku.
Sesampai di Bogor, hari sudah pukul 6 sore. Dengan tubuh yang lelah, dan mengabaikan hati kecilku, kuarahkan mobilku ke Supermarket terdekat. Berpikir keras, apa yang harus kumasak? Apa yang paling baik untuk orang sakit sekaligus untuk anak-anak? Aha! Aku ada ide! Sup ayam dan hati isi sayuran! Pasti sangat sehat!
Di rumah kakakku, Angel dan Jo terlihat agak berantakan. Kucium mereka satu persatu.
“Hari ini Tante masak yang enak! Nanti makan yang banyak ya!”
“Iya Tante! Jo kan hebat! Pasti makan yang banyak!” Jo si keriting itu selalu membuatku sakit kepala. Dia tidak pernah makan banyak, pikirku dalam hati.
Sambil memasak, Jo mengajakku bermain tebak-tebakkan. Oh Tuhanku, dia masih saja terlalu aktif, sementara tubuhku sudah terlalu lelah. Kusabar-sabarkan diriku untuk tetap menjawab tebakan-tebakan dan mengikuti permainannya. Bukankah sabar itu 90% hasil usaha? Aku menguatkan diriku sendiri.
Setelah selesai memasak, aku masih harus menyuapi mereka. Angel makan banyak, namun Jo yang sangat bandel selalu menutup mulutnya. Hampir satu jam aku membuuk-bujuknya untuk makan. Tidak mudah memang, tapi sekali lagi aku menguatkan hatiku sendiri untuk bersabar. Anak-anak ini membutuhkan aku saat ini, bisikku dalam hati, membujuk diriku, membujuk hati kecilku yang berontak.
Malam sudah menunjukkan pukul 9. Tubuhku terasa sangat letih dan remuk. Tenggorokanku tercekat, air mata hampir jatuh. Aku merasa sangat lelah saat itu.
“Kak, aku pulang dulu. Jangan lupa makan biar sembuh!” Pamitku pada kakakku yang terbaring sakit. “Angel, Jo, tante pulang dulu ya!” lanjutku pada anak-anak. Tubuh-tubuh kecil itu segera memelukku dan mencium bibirku.
“Tante, kuah supnya enak deh!” Jo dengan manisnya merayuku. Berhasil! Aku menangis sejadi-jadinya di jalan pulang. Tubuhku lelah namun hatiku penuh dengan cinta. Aku mulai memasak lagi karena cintaku pada kakakku, pada ponakan-ponakanku. Aku tahu hanya cinta yang memampukanku untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuanku.
Sahabat, hanya cinta yang memampukan kita melakukan hal-hal luar biasa. Selamat mencintai!
Sebuah karya dari Andar Ismail dalam bukunya Selamat Menabur. Saya adaptasi sedikit agar semua bisa membaca dengan lebih baik. Buat murid-muridku, hargailah gurumu! Buat rekan-rekan seprofesi, tetaplah bersemangat di ladang ini, mengerjakan perkerjaan baik dari Tuhan!
-Selamat memperingati Hari Guru Nasional, 25 November 2008-
Tuhan, Engkau mengenal saya, saya seorang guru. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya jadi guru, Tetapi saya cukup senang, Tentu saja Tuhan, pahitnya banyak : ada murid yang kurang ajar dan orang tua yang cerewet, ada Pengurus Yayasan yang sok majikan dan gaji yang paspasan. Namun itu jadi terlupakan jika dibandingkan dengan manisnya : murid yang lucu dan suka tersenyum, murid yang sopan, rajin dan cerdas, murid yang tulisannya rapi, orang tua yang bijak, dan Pengurus Yayasan yang bersahabat. Apalagi melihat murid yang bertumbuh, dulu takut dan ragu-ragu, kemudian menjadi percaya diri, dulu malas, sekarang pekerja keras, dulu bodoh, sekarang pandai, dulu cuma memikirkan diri sendiri, sekarang suka menolong. Sungguh senang Tuhan, melihat mereka bertumbuh.
Tuhan, saya sering meneteskan air mata, melihat mantan murid menjadi orang berguna. Terharu rasanya, kalau ada mantan murid menyapa, wajahnya hampir lupa, tetapi ketika dia menyebut nama dan tahun kelas, saya jadi ingat lagi murid-murid itu. Memang ada mantan murid yang buang muka, tapi itu cuma satu dua, kebanyakan menyapa dan bertanya, bercerita dan berbagi rasa, mengucapkan terima kasih dan bernostalgia. Dulu ia masih anak kemarin, sekarang sudah jadi orang berkedudukan tinggi. Dulu ia anak kecil, sekarang besar dan dewasa. Itu kepuasan seorang guru, itu kebanggaan saya.
Tuhan, melihat murid bertumbuh, membuat saya tidak menyesal menjadi guru. Dulu ia pemalu, duduk di bangku paling belakang. sekarang ia menjadi pengurus Yayasan. Dulu ia nakal dan jarang ke gereja, sekarang menjadi pembesar gereja. Dulu dia murid saya, saya bangga. Tetapi Tuhan, ajarlah supaya saya jangan terlalu bangga, Sebab saya hanya menabur, mencangkul dan menyuburkan lahan, menyiram dan merawat, namun Engkaulah yang menumbuhkan. Tuhan, ajarlah supaya saya pun tidak hanya terpukau pada masa lampau, melainkan juga memperhatikan masa kini.
Besok pagi saya akan mengajar, tolonglah saya membuat persiapan yang baik. Tolonglah saya bangun pagi sekali, supaya saya tiba di sekolah sebelum mereka. Besok pagi saya mengajar lagi, karuniakanlah saya badan yang kuat, pikiran yang segar, hati yang sabar, sikap yang bijak dan jiwa yang ikhlas. Supaya saya belajar menghargai setiap individu murid, belajar mendengarkan mereka, memanfaatkan masukan mereka, menerangkan dengan jelas dan mengajar dengan bermutu.
Tuhan, Engkau tahu, beberapa kali saya hampir berhenti, tergoda untuk berganti profesi. Kalau Engkau mau saya meneruskan semua ini, karuniakanlah saya hati yang tabah dan setia, supaya saya terus menjadi guru, sampai tuntaslah masa bakti ini, bakti kepadaMu, ya Tuhan.
Kalau nanti segala karyaku ini purna, hanya satu yang saya minta, Kiranya Engkau berkenan atas pekerjaanku. Kiranya Engkau menerima dengan baik apa yang kukerjakan. Biarlah ada orang lain yang meneruskannya, biarlah murid-muridku terus bertumbuh. Inilah hidupku bagiMu, ya Tuhan, hidup seorang guru. Hanya ini yang dapat kuberikan kepadaMu. Saya akan meninggalkan pekerjaan ini dengan syukur. Tuhan, tidak apa-apa kalau kelak tidak ada mantan muridku, yang mengantarku ke peristirahatan terakhir. Yang penting bukan siapa yang mengantar, tetapi siapa yang menjemput. Tuhan, Engkau akan menjemput saya, bukan ? Engkau akan menjemput saya dengan senyuman, dengan pelukan yang terasa hangat. Lalu Engkau berkata : “Mari, hai kamu yang diberkati, sebab ketika aku belum bisa menulis dan membaca, kamu mengajar Aku. Ketika Aku keliru, kamu menegur Aku. Ketika Aku berprestasi, kamu memuji Aku, kamu mendidik Aku. Hai kamu penabur yang baik dan setia, mari masuklah dan terimalah Kerajaan yang Kusediakan bagimu” Amin.
Hari ini, ketika bendera dikibarkan oleh tubuh-tubuh kecil muridku, Sasya, Vania dan Estu, air mata mengalir di wajahku. Bukan, bukan karena hari pahlawan yang membuat aku jadi sentimentil begini, namun semangat yang ditunjukkan oleh ketiga muridku dan teman sekelasnya 7A.
Tiga minggu yang lalu, 7A ditunjuk sebagai petugas upacara pertama mewakili kelas 7. Karena mereka baru pertama kalinya jadi petugas upacara, aku serta merta terjun ikut membantu melatih mereka. Tubuh mereka masih sangat kecil bila dibanding dengan kakak-kakak kelas yang lain. Sikap dan tingkah laku mereka juga masih sangat kekanak-kanakan. Sungguh sulit mengatur kelas ini.
Tibalah waktu mereka menjadi petugas. Senin itu terasa kelabu bagiku ketika mereka begitu berantakan sana-sini. Tak heran Pak Edi sebagai wakil bidang kesiswaan meminta mereka mengulang menjadi petugas lagi minggu depan. Wajah-wajah kecil itu terlihat kecut dan ketakutan.
Tidak putus asa, aku berusaha membesarkan hati mereka. Kudampingi lagi mereka dalam latihan di siang nan panas di hari-hari berikutnya. Latihan kuperketat dengan menghitung waktu dalam menaikkan bendera. Semua berjalan dengan baik sampai hari senin yang semakin kelabu berikutnya.
“Kelas 7A harap ulang lagi minggu depan!” suara Pak Edi yang menggelegar membuat anak-anak 7A tampak lebih pucat dari minggu yang lalu. Tidak pernah dalam sejarah di sekolahku satu kelas harus mengulang sampai tiga kali jadi petugas upacara. Dadaku sesak, ada sedih di sana melihat wajah-wajah yang hampir putus asa. Aku sendiri sudah merasa agak putus asa dengan semua ini. Hati kecilku ingin menyerah membiarkan mereka latihan sendiri saja.
Pagi itu setelah upacara, aku masuk ke kelas 7A dengan lesu. Namun begitu kulihat wajah-wajah kecil putus asa itu semangatku bangkit. Dengan suara lantang bagai seorang pejuang kukatakan pada mereka,
“Dengar! Tantangan adalah makanan kita! Saat ini memang terasa sulit, namun ketika kita sudah mencernanya dan menyelesaikannya kita akan bangga! Mari kita sambut tantangan dengan semangat!Saya suka dengan tantangan!”
Setelah itu, tubuh-tubuh yang tadinya lesu mulai duduk tegak. Hilang sudah aura putus asa di kelas itu. Pelajaran jadi lebih menarik dan suasana di luar kelas pun menjadi semakin optimis. Beberapa kali aku berpapasan dengan siswa 7A di tangga mereka meneriakkan, “Miss, Saya suka tantangan! Sama seperti Miss!” Siswa-siswa kelas lain menoleh bingung, mereka tidak mengerti rahasiaku dengan 7A. Aku terharu dengan semangat itu.
Setelah latihan seminggu untuk upacara bendera tadi pagi, akhirnya kelas 7A menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik. Bahkan Pak Edi memuji dengan mengatakan “Excellent!” Wajah-wajah itu menatapku dari tempat mereka berdiri dan aku hanya mengangguk-angguk bangga dengan air mata yang mengalir terus di wajahku. Ah..aku memang cengeng, tapi aku tidak pernah takut dengan yang namanya Tantangan!
Minggu yang baru lalu, aku dan beberapa teman menghadiri ibadah pengucapan syukur atas wisuda sekaligus ulang tahun Nova, sesama pelayan teruna. Acara yang hangat itu sungguh menghangatkan hatiku. Keakraban di antara kami semakin menguatkanku kembali, mengingatkan lagi kasih Tuhan.
Makanan yang berlimpah dan suasana yang meriah ternyata juga mengundang perhatian anak-anak kecil tetangga Nova. Lala, adikku yang baik hati mengambilkan beberapa penganan dari meja dan memberikannya pada dua anak yang menunggu di pintu. Kami tertawa saja menyaksikan peristiwa itu.
Tak lama kemudian sekitar 4 anak datang dan memandang penuh harap pada kue-kue di meja. Lala, lagi-lagi dengan baiknya memberi mereka beberapa kue tersebut. Teman-teman mulai protes kecil.
“Tidak usah dikasih terus La! Ntar minta mulu tuh!” seorang teman menyambar.
Kami masih tertawa-tawa menyaksikan peristiwa itu. Tapi segera rombongan anak yang tidak bisa dihitung jumlahnya mengantri di depan rumah Nova. Kami mulai tersenyum kecut. Sambil menghitung jumlah kue yang tersisa, Lala kelihatannya ragu-ragu untuk memberi. Tidak cukup untuk semuanya.
“Makanya dari tadi gak usah dikasih aja. Jadinya gini kan, makin banyak yang minta!” teman tadi menggerutu kesal.
Aku yang dari tadi hanya menikmati peristiwa itu tiba-tiba tergugah.
“Konsep memberi memang begitu kan? Orang yang diberi akan cenderung meminta lebih. Ketika kita siap untuk memberi, kita harus siap untuk terus memberi!” Semua terdiam, namun wajah-wajah yang ada menunjukkan kasih yang dalam. Ah betapa aku mengasihi sahabat-sahabatku ini!
Kejadian Minggu siang itu terus membekas sampai saat ini. Adakah milik kita sesuatu yang kekal, Sahabat? Tubuh, waktu, harta kekayaan? Pandang sekeliling, siaplah untuk memberi dan terus memberi!
Aku punya 8 keponakan yang sangat beraneka ragam perilakunya. Yang tertua, Berry 18 tahun, saat ini sedang dalam masa jatuh cinta setengah mati pada seorang perempuan. Berry yang kuasuh sejak kecilnya sampai aku dibilang Mama kedua, saat ini sedang tidak mau diganggu kehidupan pribadinya. Keponakanku ini sedang menuju tahap dewasa, aku hanya bisa membiarkan dan berdoa dari jauh. I keep pray for you dear!
Tidak, aku tidak bercerita tentang Berry dan masalahnya. Aku mau bercerita tentang 2 ponakan yang masih kecil-kecil, tinggal beberapa rumah jauhnya dari rumahku, Angel dan Jo. Angel 6 tahun dan Jo 3 tahun merupakan dua malaikat kecilku saat ini. Rumahnya yang dekat membuat kami sering bertemu dan bercanda. Aku dan Lala juga merupakan Ibu babtis dari Jo, si keriting nan lucu.
Sehabis lebaran bulan lalu, kakakku tidak punya pembantu lagi. Sambil mencari, dia sering menyuruhku menjaga 2 anak super ini. Suaminya yang bekerja di Hongkong dan kesibukannya sebagai majelis di gereja kami membuatku semakin sering ditugasi mengawasi, memberi makan bahkan mengajak mereka bermain.
Angel yang cantik suka sekali mewarnai dan membaca. Atau paling-paling dia minta aku menggambarkan sesuatu untuknya. Kali lain dia lebih senang bermain rumah-rumahan bersamaku. Namun Jo, adiknya adalah pribadi yang sama sekali berbeda. Karena rambutnya yang keriting, dia pernah menggunting poninya sendiri biar lurus seperti kakaknya. Gigi depannya patah karena terbentur pintu. Tubuhnya sering luka-luka karena terjatuh. Tapi wajahnya bening bagai malaikat. Tidak akan ada yang menyangka Jo sangat nakal. Perlu keahlian khusus menjaga Angel dan Jo.
Pernah dengan putus asa menunggu kakakku yang belum pulang, kuajak keduanya bermain di luar. Angel kuajak bermain skuter dan Jo naik sepeda. Angel yang genit pakai sendal berhak cukup tinggi walau sudah kularang berkali-kali. Terbukti akhirnya dia jatuh dan sebelum dia menangis cepat-cepat kusuruh mengganti sendalnya dengan yang lebih sport. Jo memaksa naik sepeda kakaknya yang melebihi ukuran tubuhnya. Aku hanya mengawasi dengan was-was. Berkali-kali dia jatuh, namun bisa bangkit lagi tanpa tangis yang berarti. Tapi kemudian dia jatuh di sebuah got yang penuh air kubangan hitam dan bau. Berlari aku menuju kekasih hatiku itu. Kuangkat tubuhnya yang hitam semua akibat air got. Kumarahi Angel yang tertawa terpingkal-pingkal. Sebelum jo menangis kubujuk dia.
”Hebat! Jo walau jatuh gak nangis! Jo sudah besar ya!”
”Tapi Jo bau, Tante!” suaranya mau menangis
”Yuk, mandi! Tante bersihin semua biar gak bau lagi! Mau?”
Anggukan kepala tanpa tangis. Syukurlah!
Aku sering merasa kelelahan seharian mejaga mereka. Setelah bermain secukupnya, dan memberi mereka makan, aku tertidur di lantai.
”Tante jangan tidur, main lagi yuk!”
”Main apa Jo?”
”Tebakan!” Jo dan Angel serentak
”Jo duluan deh!” Kataku kurang bersemangat.
”Mata apa yang bersinar terang?”
”Ehmm…mata kucing!” Jawabku pura-pura tidak tahu
”Salah! Nyerah?” Wajah kecil itu sok tahu sekali, pikirku kesal
”Nyerah” kataku mengalah. Ingin kulihat ekspresi menang di wajahnya
”Matahari! Hore!!” Katanya sambil bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Aku dan Angel ikut bertepuk tangan senang. Kantukku menyerang lagi.
”Tante, hewan apa yang warnanya hijau, suka melompat dan suaranya kwok…kwok..” Kali ini Angel tidak mau kalah. Aduh Tuhan, pikirku dalam hati, hari ini tidak akan habis dengan tebakan-tebakan konyol dua anak ini. Syukur tak lama kemudian kakakku datang!
Ah..menjaga Angel dan Jo akan menjadi kebiasaanku beberapa bulan ke depan. Mau tidak mau aku harus bersiap dengan segala kenakalan masa kecil mereka. Biarlah kunikmati saat-saat ini dimana Angel dan Jo membutuhkanku sebagai pengasuh mereka, di mana mereka selalu berlari menyambut hangat diriku dengan teriakan ”Tante Titiek” dan sebuah pelukan hangat dan kecupan di bibirku. Aku pernah bertahun-tahun menjaga Berry dulu, sekarang aku merasa kehilangan anak kecil yang selalu memujaku. Waktu-waktu ini tidak akan terulang kembali, mereka akan tumbuh besar dan akan ada peristiwa lain dalam hidup mereka, seperti Berry, seperti aku, seperti kita semua, menjadi dewasa.
Hidupku akhir-akhir ini penuh sekali dengan perjuangan. Patah hati, rasa benci, tidak siap untuk memulai hal yang baru, pekerjaan yang luar biasa sibuk, keadaan tubuh yang tidak nyaman dan sekian banyak keluhan-keluhan lainnya. Aku banyak merenung dan berdoa dan juga bercerita pada beberapa sahabat meminta dukungan doa mereka.
Hari Minggu kemarin, Kak Etha salah satu seniorku di persekutuan Teruna tempatku bersekutu memanggil beberapa di antara kami, yuniornya. Bercerita dia tentang pergumulan doanya untuk kami berempat. Kami hanya tertawa-tawa saja saat itu dan mengucapkan terima kasih kami atas doanya yang tulus buat kami. Tapi setelah kembali ke rumah aku terharu atas perhatiannya yang tanpa diminta mendoakan kami semua. Aku sempat menangis mengucap syukur pada Tuhan atas seseorang yang begitu peduli padaku.
Akhirnya aku merasakan kekuatan doa yang dipanjatkan para sahabat. Aku merasa lebih tenang, banyak tertawa, memandang semua dengan penuh rasa syukur. Ada seorang bijak pernah mengatakan, seseorang yang didoakan dengan sungguh dan penuh tetesan air mata tidak mungkin akan binasa. Aku terdiam sejenak, merasa bersyukur untuk orang-orang yang senantiasa berdoa untukku. Bersyukur atas hidupku.
Aku buka-buka kembali blogku tentang doa (Agustus 2007). Di sana aku mengatakan doa mengubah pribadi, doa membuat kita berhubungan dengan Tuhan. Sekarang aku bisa mengatakan, doa bagai sumber kasih yang tidak habis-habisnya. Kasih untuk sesama yang diwujudkan dengan saling mendoakan, Kasih kepada Tuhan sebagai bentuk ungkapan syukur.
Terima kasih untuk para sahabat dan keluarga yang dengan penuh kasih berdoa untukku. Terima kasih untuk setiap orang yang tekun berdoa untuk bangsa dan negara, untuk dunia yang lebih baik. Terima kasih Tuhan!
Dulu sekali aku punya sahabat bernama Nikodemus Wibisono. Pertemuan kami sangat sederhana di sebuah angkutan kota menuju kampus IPB Darmaga, Ospek hari pertama, Agustus 1995. Niko mengunyah pelan-pelan rotinya, kuamati dia dari ujung kaki sampai rambut. Pasti anak baru IPB juga, pikirku yakin. Tapi malu ah negurnya. Kuamati terus dia. Merasa tidak enak kuamati atau memang mau menawarkan rotinya, disorongkannya kotak kuenya.
“Mau?” tanyanya singkat. Aku hanya tersenyum menggeleng. Siapa juga yang mau rotinya? pikirku agak sengit.
“Anak IPB juga ya? Angkatan 32?” kulihat dia mengangguk dan mengulurkan tangan.
“Niko”
“Titiek”
Kami bersahabat sejak itu.
Niko jago main piano dan aku (waktu itu) jago nyanyi. Aku sering mampir di aula untuk sekedar melihatnya bermain piano. Kami juga sama-sama mengikuti Agriaswara unit kegiatan paduan suara di IPB. Aku Alto, Niko Bass. Kami sering berlatih bersama. Setahun hampir berlalu, aku dan Niko bersahabat dengan sangat baik.
Mei 1996, aku jadian dengan Ivan. Niko tiba-tiba agak berubah menjadi lebih posesif. Diantarnya aku pulang, digenggamnya tanganku ketika menyebrang jalan, dimintanya aku menemaninya ke mana-mana. Aku mengerti, dia takut kehilangan aku sahabatnya. Niko, aku tetap sahabatmu, aku berjanji untuk tetap jadi sahabatnya sampai kapan pun.
Kehadiran Niko di antara aku dan Ivan waktu itu agak mengganggu hubungan kami. Kucoba menahan emosi kekasihku itu bila Niko meminta perhatianku. Syukurlah Ivan tetap mengerti persahabatanku dengan Niko.
Kemudian sesuatu yang buruk terjadi. Juli 1996, Niko terancam di DO. Banyak nilai yang BL alias belum lengkap. Niko menghindar banyak ujian dan bahkan tidak mengumpulkan tugas-tugas. Niko sahabatku yang pintar butuh pertolonganku. Kuomeli dia, kutemani Niko mengurus nilai-nilainya, kupaksa dia menghadap dosen-dosen untuk minta maaf. Beberapa memang dilakukannya, tapi terakhir dia menyerah dan memohon padaku.
“Gue udah nyerah Tik! Kecuali lu mau kasih gue harapan untuk tetap di sini, kuliah di IPB! Kasih gue harapan Tik!” nada suaranya terdengar sedih.
Kutatap wajah Niko, sahabatku lekat-lekat. Apa maumu sahabat? Aku tidak bisa menawarkan apa-apa selain persahabatan.
“Harapan itu ada di tangan lu sendiri Niko! Jalani saja semua ini, gue yakin pasti akan selesai!”
Niko menyerah dan kemudian keluar dari IPB. Aku menangis melepas kepergian sahabat baikku itu. Tidak rela rasanya anak sepintar itu harus keluar. Sedikit banyak aku merasa bersalah.
Aku tidak menyerah. Aku terus rajin mendampingi Niko, menyemangatinya untuk ikut UMPTN lagi. Kupinjamkan buku-buku yang kupunya, kuajarkan taktik-taktik jitu mengikuti UMPTN. Walau jarak memisahkan kami, aku tetap berusaha dan berusaha. Sampai akhirnya Niko diterima di FE UI melalui UMPTN 1997. Aku bahagia! Niko menang!
Setelah itu kami tetap berhubungan. Surat menyurat di antara kami pun lancar. Beberapa kali surat dan kartu pos dari Niko datang memberi kabar dirinya. Tidak pernah dia absen mengirimkan kartu ulang tahun dan selamat natal padaku. Bahkan pernah dibawanya sebuah kue ulang tahun sebagai hadiah untukku yang membuat Ivan cemburu sampai bertahun-tahun kemudian.
Tiba-tiba, hubungan kami terhenti. Entah siapa yang memulai duluan, kami kehilangan kontak sama sekali. Namun aku tetap ingat ada seorang sahabat yang sangat aku sayangi. Tiba-tiba hari ini ingatan akan Niko menyerang pikiranku dengan hebatnya. Kucoba ketikkan namanya di internet. Gagal! Tidak dikenal! Pasti Niko tidak rajin membuka internet. Kucoba no telponnya yang dulu, gagal! Tidak dikenal. Aku mulai putus asa. Kubongkar lagi surat-surat lama dan membaca satu per satu surat yang dulu sangat akrab bagiku. Air mataku menetes pelan dilanda kerinduan.
Kabar terakhir yang dikirimnya tertanggal 31 Desember 1999 melalui sebuah kartu Natal. Isinya “1999 has been a tough year and i’m grateful that you still remember me, and i hope our friendship lasts!” Aku menangis lagi.
Tidak tahu apa yang terjadi padamu Niko, maafkan aku tidak menjadi sahabat yang baik menyemangatimu terus. Apakah Niko sudah menikah, punya anak, kerja di mana aku merasa begitu ingin mengetahuinya. Aku ingin mendengar cerita Niko di tahun-tahun yang sudah hilang. Kuambil sehelai kertas dan mulai menuliskan surat.
“Dear Niko sahabatku, …” kuselesaikan suratku dan kububuhkan alamat Niko terakhir di situ. Aku berharap dan berdoa semoga surat ini sampai ke tangan Niko dan tidak kembali padaku bertuliskan “Alamat tidak dikenal!” Ah Niko sahabatku, betapa aku rindu padamu!
Aku pernah membaca tentang pasar Tomohon yang terkenal. Konon menurut sumber bacaanku, pasar ini menjadi salah satu yang cukup unik di dunia perpasaran karena jenis hewan yang dijual di dalamnya. Penasaran akan keunikannya, berbekal Nikon D40 aku berburu foto ke Pasar Tomohon.
Hiruk pikuk pasar ini menyerangku, pertama kali menginjakkan kaki di sana. Tidak berbeda dengan pasar lain, pikirku menyederhanakan keadaan. Namun semakin kaki melangkah masuk, mulai terlihat hewan-hewan dagangan yang tidak biasa kutemukan dijual bebas.
Mula-mula tikus
. Hewan berekor panjang ini menggelitik mata dan perutku. Agak mual juga melihat tikus dipajang, hitam-hitam karena dibakar seadanya. Kasihan tiba-tiba terpatri dalam benakku. Tidak pernah aku menyukai tikus ketika hidupnya, namun pemandangan itu membuatku mau tak mau mengakui aku kasihan pada mereka.
Semakin masuk ke dalam semakin aku merasakan ketakutan luar biasa. Ada kelelawar, ular, kucing, monyet dan anjing. Bahkan untuk yang terakhir ini di jual dalam keadaan hidup atau mati tinggal pilih. Yang paling mengenaskan adalah gambaran seekor anjing yang sudah mati diletakkan di atas kandang anjing yang hidup. Aku bisa merasakan kegelisahan mereka, kegelisahan akan ajal yang segera menjemput. Belum lagi penjagalan babi dan pengeluaran isi perutnya di hadapan semua orang agar benar-benar terjamin kesegaran daging. Aku terdiam, memandang semua itu dalam hati.
Pemandangan itu sungguh menarik mata dan hatiku. Kameraku tak henti-hentinya mengabadikan apa yang kulihat namun hatiku terus berteriak-teriak kasihan! Aku tahu apa pun yang kulihat sekarang akan mempengaruhi keputusanku di masa depan. Gambar-gambar yang aku tunjukkan tidaklah indah, tapi kuharap bisa menggugah. Ah…manusia sungguh buas! Si Omnivora pemakan segala!
Pfffh…ini sudah jam 12 malam lewat. Tapi kakiku masih terasa perih dan sakit, membuat mataku tak bisa tidur. Entah kapan aku bisa memejamkan mata dan terlelap, kaki dengan luka bakarku masih berdenyut-denyut minta perhatian…ahhh…
Tadi sepulang melatih Paduan Suara Teruna di gereja, aku sampai di rumah sekitar jam 9 malam. Enaknya mandi air hangat, keramas dan menikmati malam pelan-pelan, pikirku semangat. Kudidihkan air sepanci dan sambil menunggu ku balas sms beberapa sahabat.
Air mendidih. Dengan penuh semangat kuangkat panci besar yang panas itu dan meletakkannya di lantai kamar mandi. Tiba-tiba panci besar itu tumpah dan byaaar…airnya mengenai kedua kakiku. Aku berteriak keras dan melompat-lompat menghindari kucuran air mendidih yang mengalir deras dari panci.
Sambil sedikit menangis kutelpon teman-teman yg baru kubalas sms nya. Semua menunjukkan simpati mendalam dan mengajarkan cara-cara pertolongan pertama.
"Cari di internet sekarang juga gimana cara P3K untuk luka bakar!" sahabatku menyarankan cepat. Aku berlari menuju komputerku dan menyalakan internet, namun rasa sakit kembali memanggilku ke kamar mandi menceburkan kakiku ke air dingin. Tidak sempat membuka internet!
"Rendam terus di air dingin!" Kata sahabatku yang lain. Sahabatku yang ini sepertinya tahu betul cara-cara menghadapi luka bakar. " Nanti kamu akan rasa perih, terus ganti dengan air yang dingin ya!Jangan air es!"
"Kalau bisa cari salep bioplacenton atau … (aku lupa apa yg dia bilang) oleskan ke kakimu ya!" Pintar banget sih dia? Pikirku tak percaya, tapi kuikuti saja semua nasihatnya.
Teman yang ke 3 menyarankan, "Kasi air es aja kak biar lebih cepat sembuh!" Gubrak…pendapatnya beda lagi. Pusing aku!
Sambil merenung-renung akhirnya kuputuskan untuk pergi ke dokter saja. Siapa tahu ke tiga temanku salah? Buat amannya aku telpon kakakku Hottie untuk menjemputku.
"Tumben kau mau ke dokter. Biasanya gak percaya!" Katanya geli ketika sampai di rumah. Disorongkannya bioplacenton yang kupesan. Kakiku yg sudah memerah matang terasa makin sakit.
"Kali ini aku percaya dokter aja deh!" teriakku sambil setengah berlari menuju mobilnya.
Ya, aku memang sering tidak percaya dokter. Banyak hal yang membuatku kecewa atas pelayanan mereka yang kuanggap tidak maksimal. Hanya periksa dikit kasih antibiotik, periksa dikit suruh rawat inap. Bukan sekali aku menolak untuk meminum antibiotik dan menolak rawat inap, sering! Tapi kali ini rasa sakit yang luar biasa membuatku memilih percaya pada dokter. Daripada percaya pada teman-temanku yang nasihatnya beda-beda?
Di IGD, aku disuruh berbaring. Sambil tertawa-tawa karena menahan sakit aku diperiksa oleh para suster. Entah karena aku tertawa dan tidak terlihat seperti orang sakit atau karena hal lainnya, si dokter tenang-tenang saja duduk nun jauh di sana.
Sementara suster memeriksa dan menyiramkan air ke kakiku, aku bertanya-tanya padanya mengenai apa yang seharusnya dilakukan sebagai pertolongan pertama. Jawabannya sama persis dengan teman ke duaku.
Hmm..kuamati kerja suster itu dan mengambil kesimpulan bahwa apa yang dia lakukan sama dengan yang kulakukan sebelumnya. Menyiram air sejuk pada kakiku. Lama kemudian, suster lain mengoleskan salep yang ketika kutanya sama saja dengan bioplacenton. Lalu aku disuruh membayar di kasir, selesai tanpa ucapan berarti dari sang dokter.
Haa?? Aku terpana dengan pelayanan dokter ini. Kakiku masih terasa sakit, tidak ada ucapan apa pun. Apa yang suster lakukan bisa kulakukan sendiri di rumah. Lalu apa?
Tertatih-tatih aku pulang dan masih merasa sakit sampai sekarang. Di depan komputerku aku baru sempat mencari pertolongan pertama pada luka bakar. Prosesnya persis seperti yang dilakukan suster padaku. Berarti apa yang mereka lakukan hanya pertolongan pertama dong? Pikirku sengit!
Mulai sekarang, aku akan mencari info sebanyak-banyaknya untuk pertolongan pertama pada kondisi apa pun. Aku akan menjadi dokter pertama untuk diriku sendiri. Terdengar sok tahu memang, tapi kitalah yang paling tahu kondisi tubuh kita sendiri kan? Jadi menimba ilmu kesehatan dan kedokteran untuk diri sendiri pasti sedikit banyak membantu untuk pertolongan pertama pada kondisi apa pun.
Duh…kakiku masih terasa nyeri…..
